09 September 2012

Belajar dari Pengalaman: Sulit Bernafas di Ketinggian

Naik gunung
Seru memang, ini pengalaman pertama saya, naik gunung hingga 3883 m diatas permukaan laut, yang terkenal dengan salju abadinya. Suhu dipuncak mencapai 1 Celcius, udaranya pun kering dan angin berhembus kencang sekali.

Naik gunung kali ini, saya menggunakan kereta gantung, cukup cepat juga naiknya 10 meter per detik. Hanya dalam waktu singkat, sudah sampai puncak, tidak perlu mendaki berhari-hari.
Nah sesampainya dipuncak gunung, yang saya alami adalah kesulitan bernapas. Berat sekali rasanya oksigen masuk ke paru-paru ini. Padahal saya tidak ada riwayat asma atau penyakit paru lainnya lho..
Mengapa?

Ini yang disebut dengan Altitude sickness

Semakin tinggi tempat, semakin tipis kadar oksigennya (semakin sedikit molekul oksigen pada udara), dan tekanan udara pun lebih rendah, sehingga saya butuh bernapas lebih cepat dan lebih dalam (hiperventilasi), dengan jantung berdetak lebih cepat supaya lebih banyak oksigen yang masuk ke paru-paru. Proses ini disebut Aklimatisasi, yaitu reaksi tubuh kita saat beradaptasi di ketinggian. Karena kedinginan, saya pun berlari cari tempat yang hangat, tetapi semakin lari semakin sulit bernapas, karena saya butuh oksigen yang banyak ketika berlari. Proses aklimatisasi hanya berlangsung singkat dan sifatnya sementara, sekitar 10-15 menit. Setelah beberapa saat, tubuh bisa beradaptasi, semuanya kembali normal dan saya bisa menikmati pemandangan dipuncak gunung. =)

Biasanya altitude sickness ini dijumpai pada mereka yang naik ke ketinggian diatas 2400m dpl dengan drastis. So, buat yang bakal naik gunung es seperti ini, dimana ketinggiannya cukup lumayan, sekitar 3800 meter dpl, tips yang bisa saya berikan adalah:
  • Buat yang ada riwayat asma, bawa inhaler asma.
  • Hindari naik gunung secara drastis (tanpa stop). Bila ada perhentian, usahakan berhenti sejenak, supaya paru paru kita beradaptasi. Kemudian, lanjutkan naik. 
  • Gunakan pakaian yang hangat, tutupi hidung dengan syal/sapu tangan pada udara dingin/berangin
  • Jangan berlarian dan panik bila sulit bernapas.
  • Tetap tenang dan minum minuman yang hangat (sekaligus untuk menghindari dehidrasi)
  • Hindari konsumsi alkohol
  • Bisa gunakan ibuprofen 600 mg sebelum naik gunung. Hal ini terbukti mengurangi gejala high altitude sickness, tetapi konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.
Oke, itu dulu sharingnya, semoga bermanfaat nih buat yang mau naik gunung!!

Referensi: Australian Pharmacist - Sept 2012

4 komentar: